03 September 2011

, , , , ,

curhatku setelah kecelakaan dalam rangka jadi relawan di merapi

Curhatan dari admin sekolah pintar merapi(purwanto) tagal 24 juni 2011 kecelakaan di bawah bale desa umbulharjo. kecelakaan tunggal karna terlalu lelah. motor sih tidak apa-apa, tapi naas bagiku.. sejak kecelakaan sampai tgl13 juli(seminggu dirumah) walau fisik hanya berbekas jahitan 7di bibir atas, tetapi ingatan dan kesadaran pikiiranku hilang, saat ini saja aku tak ingat masa sma ku, kata orang tuaku aku baru sadar 3 hari setelah kecelakaan, dan terus berontak sampai aku harus diikat kuat-kuat di ranjang, 4x ku mencabut jarum infus dll. alhamdulillah sekarang aku sudah pulih secara fisik dan ingatanku tentang kuliah dan merapi alhamdulillah tak hilang, maaf adik-adik merapi, kakak tidak bisa mengajari kalian tpa dan bimbel. karna kakak masih punya tugas kuliah untuk pkl d wonogiri sampai sebelum lebaran. jadi kakak baru bisa belajardengan kalian setelah lebaran. by:purwanto pj shelter jenggala from sekolahpintarmerap
Continue reading curhatku setelah kecelakaan dalam rangka jadi relawan di merapi

29 Agustus 2011

, , ,

Berhikmah dari "Sholat"

Berkaca.....
Harusnya masih teringat jelas diingatan kita bagaimana getolnya orang tua yang menyuruhan anaknya untuk melaksanakan sholat. Sebanarnya jika kita menyadari itu sejak dahulu kala, hikmah akan didikan orang tua membelajarkan sholat, akan sangat memberikan efek bagi kita dalam berproses memperdalam ajaran agama Islam.
Teringat bagaimana ibu/ayah menyingkap selimut tebal ditengah dinginnya pagi, untuk apa.....meminta agar si anak bangun dan mengambil air wudhu untuk segera menunaikan sholat subuh,
Teringat siang hari dengan terik dan sengatan panas matahari, dimana saat itu kita berlari-lari pulang dari sekolah menuju kerumah, melempar sepatu kesudut pintu, melepas tas begitu saja, dan segera ingin melepaskan kesumpekan belajar dengan nonton TV atau bermain, tib-tiba ada yang berkata, "nak sholat dhuhurlah dulu..." setelah itu kamu bebas akan beristirahat atau bermain, atau
teringat pula ditengah asyiknya bermain bersama teman-teman, terdengar panggilan...."nak sudah sore, pulang dulu mainnya dilanjutkan nanti lagi atau besok siang, sekarang mandi dan sholat ashar dulu...." atau
teringat pula diwaktu sore dengan keasyikan dunia anak-anak, tak akan berhenti suara itu mengingatkan, "ayo pulang sudah jelang magrib, segera sholat magrib setelah itu mengaji".
pun ketika malam hari, kantuk yang mulai menghinggap, ada suara yang mengingatkan, "nak sholat isya dulu baru belajar"

Apakah kisah ini ada dalam kehidupanmu dahulu?

"episode Merapi 28 januari, kala senja beranjak petang"
Betapa indahnya kita diajarkan sholat sejak kita kecil, tapi mungkin sedikit sekali kita menikmati dan mensyukurinya sebagai bagian dari anugerah penjagaan Allah terhadap hambanya...
Belajar dari seorang nenek, ada secercah rasa iba yang muncul. Ketika kupinta ia untuk membaca doa iftitah, ternyata si nenek tak kuasa dan tak bisa. Namun tak ada sikap menyerah yang ia tunjukkan, bahkan dibalik itu ada rasa optimisme yang muncul melalui pancaran mata dan raut wajahnya yang sudah beranjak senja. Ia terus mencoba untuk bisa tau bagaimana sholat yang baik yang bisa diterima oleh Gusti Allah.
Melihat senyum ompongnya, membuatku untuk tetap bersemangat pula mengajarinya. Memang, harus bersabar dengannya, baru saja ku ajarkan dan ku minta untuk mengulanginya secara pelahan, si nenek sudah lupa, dan memintaku untuk mengulanginya kembali. Tak cukup hanya hitungan jari belajar untuk mengulangi 1 ayat yang sama......allohuakbar
tatapan dan anggukannya meski tampak lucu, itulah wujud apresiasinya untuk terus belajar
Continue reading Berhikmah dari "Sholat"

14 Juni 2011

, ,

untung ato rugi?? pilih sendiri...!!!



Ada sebuah pertanyaan yang agak bodoh. Jika orang ditanya; Mau pilih untung atau rugi? Pastilah dia memilih untung. Memangnya siapa diantara kita yang mau rugi? Apalagi kalau ditanya; Kamu mau bangkrut atau tidak? Hah! Rugi saja tidak mau, apalagi kalau sampai bangkrut. Ya jelas tidaklah. Tapi, tunggu dulu. Kira-kira, mengapa ada orang yang begitu dungunya hingga bersusah payah menyampaikan pertanyaan pilon itu? Ternyata pertanyaan itu memang layak diajukan kepada kita. Karena, meskipun secara konsepsi kita tidak ingin rugi, namun perilaku kita sehari-hari menunjukkan bahwa kita sedang menuju kepada kerugian. Kita yang merasa tidak pernah rugi dalam berbisnis mungkin menyangkalnya. Namun, benarkah demikian?
Adalah Rosululah SAW pada suatu hari, beliau melintasi sebuah kota. Kepada orang-orang dikota itu beliau bertanya; apakah kalian tahu apa artinya untung, rugi, dan bangkrut? Sungguh, itu pertanyaan gampang. Sehingga setiap orang bisa menjawabnya dengan mudah. Namun, tak satupun dari jawaban itu yang memuaskan sang Rosul. Lalu dia berkata : ” Orang-orang yang beruntung adalah mereka yang dihari ini, lebih baik dari hari kemarin. Mereka yang tidak lebih baik dari hari kemarin, adalah orang-orang yang merugi. Sedangkan jika dihari ini dirinya lebih buruk dari hari kemarin, maka mereka adalah orang-orang yang bangkrut
Jadi untuk menilai apakah kita untung, rugi atau bangkrut caranya sederhana, yaitu; membandingkan hari ini dengan hari kemarin sebagai acuan. Jika kita bisa menjadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka kita sungguh menjadi orang yang beruntung itu. Namun, sekiranya kita hanya bisa menjalani hari ini dengan nilai yang setara dengan hari kemarin, maka sesungguhnya kita ini merugi. Apalagi sekiranya dihari ini, perilaku kita, sikap kita, cara berpikir kita lebih buruk dari hari kemarin. Maka, kita masuk kedalam kelompok orang-orang yang bangkrut.
Kita cenderung menggunakan jumlah uang, harta kekayaan, dan kesuksesan dalam karir untuk mengukur untung dan rugi. Hari ini, kita diajak untuk melihat untung dan rugi dengan perspektif lain. Dengan menggunakan KONSEP PERTUMBUHAN. Yaitu, konsep untuk bertumbuh. Terus bertumbuh. Dan terus bertumbuh dari hari kemarin, menuju ke hari ini, dan melanjutkannya ke hari esok. Konsep ini, tidak hanya berlaku bagi orang-orang yang sedang membangun kesuksesan non-material belaka. Kita yang tengah berfokus kepada kesuksesan material juga bisa menggunakannya sebagai sarana untuk meningkatkan kinerja kapital Kita. Jika Kita mendapatkan seribu rupiah kemarin, Kita mesti mendapatkan lebih dari seribu hari ini. Jika tidak, maka artinya Kita rugi, atau malah bangkrut. Dari sudut pandang ilmu ekonomi, uang seribu rupiah hari ini nilainya lebih rendah dari seribu rupiah kemarin sebagai konsekuensi dari inflasi. Jadi, hikmah yang diajarkan seribu limaratus tahun lalu ini sungguh sangat relevan dihari ini.
Tapi, memang benar bahwa untuk sesaat kita perlu keluar dari alam materialistik menuju kepada dimensi non-materialistik. Toh, tubuh kita terdiri dari dua bagian penting; fisik dan non-fisik. Komponen fisik dibangun oleh unsur-unsur material. Sedangkan komponen non-fisik disusun oleh unsur-unsur non-material. Oleh karenanya, untuk menjadikan diri kita utuh; kita harus bersedia menembus hal-hal non-material itu.
Dalam perspektif non-fisik, konsep ini mengisyaratkan dua aspek penting. Aspek pertama berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan atau keahlian. Pendek kata, kita ditantang untuk memastikan bahwa pengetahuan kita hari ini lebih banyak atau lebih baik dari hari kemarin. Maknanya? Kita mesti benar-benar menerapkan apa yang biasa kita sebut sebagai LONG LIFE LEARNING PROCESS. Ibu saya yang tidak berbahasa Inggris menasihatkan; Ulah liren diajar. Artinya, ˜jangan pernah berhenti belajar”. Dan itu betul. Sebab, jika kita berhenti belajar, maka pengetahuan kita dihari ini tidak lebih baik dari hari kemarin. Jika demikian, kita tidak termasuk orang yang beruntung.
Aspek kedua berhubungan dengan perilaku, sikap serta tindak-tanduk kita. Aspek ini bisa menjadi lebih penting bobotnya dari yang pertama. Karena, kita sudah tahu bahwa sikap bisa berarti segala-galanya. Orang yang sikapnya buruk, kemampuan belajarnya juga buruk. Sehingga dengan sikap buruk, kita tidak bisa mengadopsi keterampilan dan keahlian yang lebih baik. Seorang karyawan yang bersikap buruk ditempat kerja, tidak akan bersedia untuk mempelajari hal baru. Menangani tugas-tugas tambahan. Atau melatih diri untuk mengasah keahlian. Seorang karyawan yang berpikiran dan berprasangka buruk pun demikian. Apapapun yang dilakukan atasannya, akan dicurigai dan disikapi dengan buruk.
Sebaliknya, orang-orang yang bersikap baik. Berpikir positif. Membuka diri terhadap kritik. Pastilah akan mendapatkan peningkatan bermakna hampir dalam segala hal. Bahkan, sekalipun memang benar bahwa atasannya memperlakukan dia secara tidak adil. Memangnya, kita bisa selalu bersikap positif untuk setiap tindakan buruk yang dilakukan oleh orang lain kepada kita? Memangnya, kita selalu bisa bersikap positif untuk peristiwa-peristiwa menyakitkan yang menimpa kita? Tentu saja bisa. Mengapa? Karena, kita semua mengetahui dan meyakini bahwa dalam setiap peristiwa; ada sisi baik dan ada sisi buruk. Bahkan, kejadian yang baikpun ada sisi buruknya. Sebaliknya, peristiwa buruk selalu ada sisi baiknya. Itulah sebabnya kita mempunyai istilah; ˜dua sisi mata uang”. Mana ada uang yang hanya memiliki satu sisi? Sikap yang baik akan membantu kita untuk selalu menemukan sisi baik dari hal apapun yang kita hadapi.

Sampai disini, jelas sudah bahwa sesungguhnya, Rosulullah mengajari kita tentang sebuah prinsip sederhana, yaitu; MANJADI MANUSIA YANG LEBIH BAIK, DARI HARI KEHARI. Bisakah Kita membayangkan sekiranya kita menjadi lebih baik setiap hari? Tentu pencapaian kita akan semakin baik dari hari ke hari juga.
Tapi tunggu dulu. Pelajaran kita belum selesai. Sebab, kedua aspek non material yang baru saja kita bahas itu baru menyentuh alam duniawi. Bagi kita yang meyakini bahwa selain dunia ini juga ada alam akhirat; tentu tidak cukup jika hanya mementingkan dan memperjuangkan urusan dunia saja. Urusan akhirat sama pentingnya. Sehingga kalimat itu selengkapnya berbunyi; ˜menjadi manusia yang lebih baik dari hari ke hari dimata Allah ”. Semakin hari, hati kita semakin bersih. Niat kita semakin tulus. Dan kepatuhan kita kepada kehendak Tuhan menjadi semakin tinggi. Bisakah Kita membayangkan sekiranya dimata Tuhan kita bisa menjadi hamba yang lebih baik setiap hari? Tentu nilai kemanusiaan kita akan semakin meningkat dari hari ke hari juga.
Dan, jika kita ingat doa yang paling sering kita panjatkan. Doa yang berbunyi; Ya Allah, berikanlah kepadaku kesuksesan di Dunia, dan kesuksesan d Aakhirat. Tentu kita juga akan sadar bahwa menjadi lebih baik dalam urusan dunia saja, tidaklah cukup. Mungkin kita untung secara duniawi. Pengetahuan kita semakin bertambah. Keterampilan kita semakin tinggi. Penghasilan kita semakin banyak. Rumah kontrakan diganti menjadi hunian cicilan. Sepeda motor beroda dua berubah menjadi mobil. Dari naik angkot menjadi menyetir mobil sendiri. Tapi, kalau nilai akhirat kita tidak menjadi lebih baik apa artinya? Apalagi jika semua peningkatan dan kenikmatan hidup itu semakin menjauhkan diri kita dari Aturan Allah. Kita untung untuk ukuran dunia, tapi merugi berdasar kriteria Akhirat.
Ini sungguh sesuatu yang sangat menakutkan. Menakutkan, karena hidup didunia ini hanya tinggal beberapa saat. Belum tentu umur kita sampai ke tahun depan. Betapapun berhasilnya kita secara duniawi, kenikmatannya hanya bisa dirasakan sementara. Sedangkan akhirat? Dia abadi. Selamanya. Menakutkan jika hanya sempat mengecap nikmat didunia sesaat. Namun, tidak dapat mengecap nikmat akhirat yang NIKMATNYA SELAMANYA.
Jika nikmat dunia kita bertambah, namun cara kita bertingkah polah semakin buruk; kita benar-benar bangkrut. Hari ini, sudah Tuhan anugerahkan nikmat yang lebih banyak dari hari kemarin. Tapi, hari ini; kita terlenakan dengan kenikmatan itu. Sampai-sampai kita berpikir; ˜ kapan lagi menikmatinya”. Lalu kita mengumbar semua keinginan. Oh, bagaimana sekiranya Tuhan menjadi marah. Marah karena Dia sudah memberi kita nikmat lebih banyak. Namun, bukannya kita menjadi semakin mendekat. Sebaliknya, kita malah menjadi lebih berani menghujat hukum-hukumNya.
Rugi. Bukanlah tentang berapa uang kita yang hilang. Bangkrut. Bukan tentang bisnis yang tumbang. Melainkan tentang gagalnya diri kita untuk menjadi manusia yang lebih baik dari hari kemarin. Jadilah manusia yang lebih baik dari hari kemarin. Jadilah manusia yang lebih baik dari hari kemarin. Jadilah manusia yang lebih baik dari hari kemarin. Jadilah. Manusia. Yang beruntung.
Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita semua untuk mampu mempertahankan dan meningkatkan prestasi amal sholeh kita semua, amin ~(purwanto)

Continue reading untung ato rugi?? pilih sendiri...!!!

18 Januari 2011

Wasiat anjuran shalat malam

Sufyan Ats-Tsauri brkta: Ktka tbA awl wktU mlm ada sRuan dri bwah Arasy:"Bgunlah whai org2 yg ahli ibdah". Kmdian org yg ahli ibdh itU bgun & mlKsnakan shlt sbgaimNa yg d'khendaki Allah smpi wktu shur tb.


Stlh itu,ada sRuan d'tgH mlm: bgunlah whai org2 yg taAT. Kmdian mrka bgun uTk mlKukn shlt mlm smpe wktU shur tbA.


Ktka wktU shur tbA,ada sRuan:Whai org2 yg mMhon ampunan bgunlh. Mka bgunlh org2 yg mMohoN ampunan.


TatkLa trbit fjar,ada sRuan:Whai org2 yg lalai bgunlah. Mka bgunlh org2 yg lalai dr tmpat tdr mreka sPrti bgunx org mti dri kburx.


D'critakn dlm wsiat Luqman Al-Hakim kpda anakx, ia brkta: whai anakq! Jganlah ayam jago lbiH crdas dr pda dirimu, yg mMangGIL2 d'wktU shur d'saAt qmu sdag tdur nyenyak.
Continue reading Wasiat anjuran shalat malam

30 Desember 2010

Besarkanlah Asma Allah.

Coba kalo ga ada keikut sertaan kekuasaan Allah,
udara oksigen ga ada yg suplai, pada ilang, ya gak
pada bisa maen tu pada, sesak nafas.
Coba kalo ga ada keikut sertaan kekuasaan Allah,
Nikmat mata bisa ilang, gak bisa pada nonton kita.
Coba kalo ga ada keikut sertaan kekuasaan Allah
Detak jantung ga ada yg ngurusin, pada mati
semua.
Bukannya bilang Allah dihatiku, apa repotnya coba?
Minimal ada syukurnya kek sedikit.
Ini pas azan Isya Allah manggil, eh pada layar
tancepan,
Tv diluaran dah gitu surak-surak bikin suara azan
tenggelam.
Padahal peluang Isya dimasjid atau awal waktu bagi
jamaah wanita, khusus di malem pertandingan
pahalanya gedean, krn aga melawan arus aura
asiknya menonton bola.
Kalo ga yakin semuanya terjadi atas kekuasaan
Allah,
Ini pertanda kafir. Jadi mari besarkanlah Asma Allah.
Mau lagi seru finalty ataw cornel, pas azan Isya, kita
tetep duluin Sholat.
Siapa tau kelaran shalat, ba'diyahnya, tilawahnya,
pas ente keluar masjid,
Gonzales dkk langsung nyetak gol 5 dan sisanya 3
gol bunuh diri 8-0.
Andai kalahpun tetaplah berseru membesarkan
Asma Allah,
inilah kemenangan abadi kita, tidak hanya didunia,
tetapi diakhirat.
Hanya nama Allah-lah yang maha besar yang selalu
ada di hatiku.

Continue reading Besarkanlah Asma Allah.

28 Desember 2010

10 KUALITAS KEPRIBADIAN BAIK

1. Ketulusan

Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh
semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena
yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang yang tulus selalu mengatakan
kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura- pura, mencari-cari alasan atau
memutarbalikkan fakta. Prinsipnya “Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak”.
Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi
dengan kecerdikan seekor ular. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi
keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.
2. Kerendahan Hati

Berbeda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan, kerendah hatian justru
mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap
rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orang
yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa
membuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yang di bawahnya
tidak merasa minder.
3. Kesetiaan

Kesetiaan sudah menjadi barang langka & sangat tinggi harganya. Orang yang
setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janji, punya
komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.
4. Positive Thinking

Orang yang bersikap positif (positive thinking) selalu berusaha melihat
segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk
sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang
lain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih suka
mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam, dan
sebagainya.
5. Keceriaan

Karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria, maka keceriaan tidak
harus diartikan ekspresi wajah dan tubuh tapi sikap hati. Orang yang ceria
adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu
berusaha meraih kegembiraan. Dia bisa mentertawakan situasi, orang lain,
juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong
semangat orang lain.
6. Bertanggung jawab

Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan
sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya.
Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk
disalahkan. Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan
menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang
bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.
7. Percaya Diri

Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana
adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percaya
diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Dia
tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.
8. Kebesaran Jiwa

Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain.
Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci
dan permusuhan. Ketika menghadapi masa- masa sukar dia tetap tegar, tidak
membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.
9. Easy Going

Orang yang easy going menganggap hidup ini ringan. Dia tidak suka
membesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah-
masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir
dengan masa depan. Dia tidak mau pusing dan stress dengan masalah-masalah
yang berada di luar kontrolnya.
10. Empati
Empati adalah sifat yang sangat mengagumkan. Orang yang berempati bukan saja
pendengar yang baik tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain.
Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua
belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Dia
selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.


by Apep Jasmani on Saturday, December 25, 2010 at 9:09pm
Continue reading 10 KUALITAS KEPRIBADIAN BAIK

Ini tentang sebuah CITA- CITA dan sebuah ANGAN-ANGAN belaka

Siapakah di dunia ini yang tidak mempunyai CITA-CITA? Itu terlontar dari mulutku begitu saja, ketika hitam pekat itu menyelimuti langit yang telah ditinggal oleh kawannya, matahari. Tulisan ini hanya untuk mengingatkanku, yang memiliki sebuah CITA-CITA, dan bukan sebuah ANGAN-ANGAN belaka. Malam ini pun ku menjadi teringat dengan satu diskusi ku bersama sahabat ku, Dayat.
       Diskusi itulah yang memaksaku untuk menuliskan ini. Diskusi yang begitu saja terjadi, di dua tempat berbeda, di dua tempat yang saling berdempetan. Entah dari mana awal dikusi itu dimulai, sampai akhirnya masuk dalam bab CITA-CITA dan ANGAN- ANGAN.
       Kini ku ingat, bagaimana kami, aku dan Dayat, memulai diskusi dan masuk dalam bab CITA- CITA dan ANGAN- ANGAN.
       “Akh, afwan buku-buku yang antum berikan belum saya inventaris, jadi belum bisa dipinjam orang lain”, ucapku sebagai pengurus perpustakaan masjid yang sedang berkembang. Ya…sedang berkembang.”
       “Gapapa, santei aja”, ucapnya dengan kekhasannya, pelan dan tenang.
       “Oiya akh, buku-bukunya ada yang tulisan arab semua, pada gundul juga?? Saya ga bisa baca..hehe…” candaku yang biasa ku lakukan setiap kali bertemunya.
       “Itu ikhtiar ane untuk cita-cita ane” jawabnya dengan pelan dan lugas.
       “Memang apa cita-cita antum?” Tanyaku penasaran.
       “Seperti halnya antum yang menginginkan pergi ke Jepang, maka seperti itulah saya pun ingin pergi ke Saud” jawabnya dengan kemantapan  lisan dan ketegasan jiwa.

       Kagum,,,,dan sekaligus heran??? Kapan saya pernah bilang, kalo saya ingin sekali ke Jepang. Bukannya dia berbohong, tapi malah kesyukuran buatku. Allah mengingatkanku akan cita-cita itu.

       Pembicaraan itu berlanjut dan terus berlanjut, dan itu terjadi di depan pintu perpustakaan. Sampai akhirnya datang pengunjung, maka kami pun sadar, kami harus berpindah. Maka pindahlah kami dari perpustakaan ke ruang sebelahnya.
Di ruangan itu, baru dimulailah diskusi hangat itu. Tak ada rasa lebih pintar satu sama lain, yang ada hanya rasa untuk saling melengkapi kekurangan yang ada dalam setiap diri masing-masing.
       Ku lupa dari mana harus mulai,,,tapi ku coba dari sini saja,,,
       Dayat menggambar beberapa garis di atas keramik putih itu, tanpa alat tulis, hanya dengan jarinya. Dan bisa ku tangkap yang dimaksudnya. Dia menggambarkan sebuah jalan dengan menggambarkan 2 garis lurus, 1 garis lurus lagi ia gambar sejajar dan persis ditengah-tengah 2 garis lurus tadi. Dan ia gambarkan pula garis zig-zag dimana awal dan akhirnya ada pada tengah-tengah 2 garis lurus itu. Ada yang telupa, 1 garis lagi. Ya satu garis lagi memotong 2 garis lurus itu.
       “2 garis lurus itu menggambarkan bahwa itulah perjalanan kita, dunia dan akhirat” terangnya dengan hati-hati. “1garis yang memotong 2 garis itu adalah garis pembatas antara dunia dan akhirat, yang tidak lain adalah garis ajal. 1 garis yang melintas lurus sejajar dengan 2 garis itu adalah angan-angan manusia yang menembus batas ajalnya. Terakhir, garis zig-zag itu adalah perjalanan kita sebagai manusia yang tidak bisa selurus garis itu. Kita terombang-ambing ke kanan ke kiri. Dan itulah perjalanan yang kita jalani” lanjutnya mejelaskan.
       Ia pun langsung membahas tentang ANGAN-ANGAN manusia yang sebagian besar selalu menembus batas ajalnya. Ia menyampaikan bahwa ANGAN-ANGAN seperti itu adalah mubazir, dan Rasul pun tidak memperbolehkannya. Ku kerutkan dahi ini pertanda, aku sedang berpikir saat itu. Aku pun tak tahu apa yang sedang ku pikirkan saat itu. Ku hanya tahu bahwa aku bersepakat.
       “ Setuju tu akh, manusia bisanya dan biasanya cuma berANGAN-ANGAN, bagaimana ia di dunia dan bagaimana ia di akhirat??” seketika ku lontarkan kalimat itu. Tidak lama, lisan ini pun berucap kembali “ Akh, tadikan masalahnya berANGAN-ANGAN, sekarang kalo berCITA-CITA. Kita bercita-cita untuk dunia dan akhirat. Gimana boleh ga?Atau mubazir juga?”
       Dayat mengambil nafas panjang. Entah apa artinya itu. Yang jelas, ia lebih tahu arti helaan nafas panjang itu.
       “Akh CITA-CITA ya??”, tanya-nya.
       “Ya”, jawabku spontan.
       “Kita tahu CITA-CITA dan ANGAN-ANGAN adalah kata-kata yang hampir mirip maksudnya dan  sangat tipis batasannya” lanjutnya yang sebenarnya belum menjawab pertanyaanku.
       “ Ya,,,yang saya tahu CITA-CITA itu kata berkonotasi positif sedangkan ANGAN-ANGAN berkonotasi negatif. Pasti memiliki arti yang berbeda. Sejauh yang aku tahu, CITA-CITA itu suatu yang kita perjuangkan, maka ikhtiar itu tampak dari kita yang memiliki keinginan itu, yaitu CITA-CITA. Sedangkan ANGAN-ANGAN, aku sering mendengarnya berdampingan dengan kata-kata ‘malas’, ‘tidak ada usaha’, ‘tidur’ dan lainnya. Itulah setahuku” jelasku apa yang ada dalam pikiranku.
       Kami berdua terdiam sejenak, untuk berpikir, merasa, meraba setiap ilmu yang ada. Menyelami masing-masing diri akan kepahaman tentang hidup dan kehidupan.
       “Akh,, ada hadist Imam Ali yang intinya beliau menyampaikan bahwa beliau tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya pada sore harinya, sedangkan ia sedang berada pada siang hari. Apa artinya itu? Artinya adalah tidaklah perlu kita khawatir akan apa yang terjadi nanti, karena Imam Ali saja menyerahkan apa yang terjadi pada sore harinya, bergantung kepada kehendak Allah. Tak usah kita berpikir terlalu jauh. Tidaklah perlu kita berpikir untuk 5 tahun ke depan, 10 tahun ke depan atau malah setelah ajal kita. Itu mubazir.” jelasnya Dayat dengan kesantunan tutur katanya.
Jujur aku heran, kenapa ia bisa menyampaikan seperti itu. Berbeda 180o dengan apa yang aku pahami. Apa ini?? Apa yang harus ku katakan. Sedangkan pikiranku sedang berjuang mencari sangkalan atas ketidaksetujuanku. Belum aku mengatakan satu kata pun, ia sudah memulai untuk berbicara lagi.
       “Akh,,,antum  ingat Al Hasyr ayat 18? Dimana Allah memerintahkan kita untuk memperhatikan apa yang telah kita lakukan dan persiapkan untuk hari esok yaitu akhirat”, tanya-nya padaku.
       “ Iya akh, aku ingat”, jawabku singkat.
       “ Dalam ayat itu, Allah memerintahkan kita untuk melakukan seproporsional mungkin apa-apa yang kita inginkan untuk masa depan.”, jelasnya yang membuatku semakin bingung.
       Dahi ini menjadi makin mengerut, signal bahwa prosesor badan ini sedang bekerja mencari data-data ilmu yang berserakan. Entah itu ada di folder setiap ilmu yang berasal dari kajian-kajian atau file yang berserakan karena ilmu yang aku dapat itu berasal dari bacaan tidak utuh terhadap buku-buku. Semakin lama, semakin aku tahu apa maksud dari apa yang telah Dayat katakan sedari tadi. Intinya adalah tidak usah khawatir akan masa depan kita karena Allah telah mengaturnya. Susunlah setiap cita-cita yang tidaklah terlalu jauh waktunya dengan kondisi kita sekarang ini.        Penekanannya adalah waktu yang tidak terlalu jauh dengan kondisi sekarang. Inilah yang membuatku bingung, kenapa ia merepresentasikan proporsianal (adil kalau menurutku) dengan seperti itu.
       “Akh bagaimana kita menentukan, harus sejauh mana kita bercita-cita? 2 tahun? 5 tahun? 10 tahun? Atau bagaimana?” tanyaku yang sedari tadi bingung.
       “ Kita tidak menentukan waktunya sejauh apa, itulah yang harus dipikirkan secara proporsional. Imam Ali kan sudah menyampaikan bahwa beliau tidak tahu apa yang terjadi padanya pada sore hari” jelasnya, yang membuat aku menjadi bisa melihat benang merah diskusi ini.
       Ada perbedaan pandangan disini, dalam diskusi ini. Ya,,,antara aku dan Dayat. Namanya pun diskusi, jika sama yang kurang seru dan kurang mengena. Mengena,,itulah kenapa saya menulis ini.
       “ Akh,,sekarang aku tahu duduk persoalannya. Kita jelas berbeda memandang persoalan ini. Begini, saya pandang ayat 18 dalam surat AL Hasyr itu adalah perintah Allah kepada kita untuk melakukan yang terbaik untuk guna mempersiapkan hari esok, masa depan dunia dan akhirat. Allah tidak membatasi cita-cita kita dengan batasan waktu. Karena Allah pun menyuruh kita untuk mempersiapkan ‘hari esok’ dalam ayat ini, yaitu lebih condong kepada akhirat. Maka menurutku, tidak jadi soal ketika kita memiliki CITA-CITA sampai menembus batas ajal” ucap lisanku yang mendadak bersemangat dan terpacu untuk berkata-kata.
       “Berkaitan dengan hadist dari Imam Ali tadi. Aku ingin bertanya dulu. Apakah antum tahu, sahabat Rasul ini tidak memiliki perencanaan dalam hidupnya ? Seorang khalifah ke-4. Tidakkah memiliki CITA-CITA dan perencanaan?” tanyaku yang sebenarnya tidak perlu dijawab.
       “Aku yakin bahwa Imam Ali tidak lupa untuk merencanakan setiap apa yang harus beliau lakukan, persiapkan bagi nya dan bagi umatnya. Aku berpandangan jika hadist itulah bentuk ‘kepasrahan utuh’ seorang Imam Ali kepada Rabb-Nya, Allah Azza Wajalla. Kepasrahan ketika sudah tertunaikan segala ikhtiar, termasuk perencanaan, maka apapun kehendak Allah nanti, maka Allah sendiri yang lebih tahu atas kehendak-Nya” lanjutku dengan kehati-hatian setiap kata yang terucap.
       Dayat tampak berpikir. Mencerna kata-kata ku tadi.
      “ Jadi akh…” lanjut ku bermaksud menyimpulkan pandanganku. “ Melalui Al Hasyr 18 Allah memerintahkan kita berupaya dengan yang terbaik, termasuk perencanaan dan penentuan CITA-CITA yang tidak dibatasi dimensi waktu. Dan pun…Hadist dari Imam Ali, mengingatkan kita untuk menetapkan hati agar tetap dalam koridor yang benar, bahwa setiap yang terjadi dan apapun yang terjadi nanti adalah kehendak Allah. Itulah bentuk ke-tawakal-an. Dan itulah sebuah upaya yang proporsional, keseimbangan antara ikhtiar dan kepasrahan .”
Dayat menjadi lebih mengerti apa yang aku katakan dan yang aku maksud.
       “Ya…sekarang ane tahu  dan mengerti. Ternyata ada pemahaman aneyang kurang lengkap dan antum sudah melengkapi itu. Jazakalloh” Ucapnya dengan senyuman hangatnya.
       “Bentar akh…sepertinya ada yang belum selesai dari diskusi ini. So bagaimana dengan CITA-CITA dengan ANGAN-ANGAN???” tanyaku yang hamper kami semua lupa dengan pembicaraan awal.
       “CITA-CITA lah yang harus kita perjuangkan, sedangkan ANGAN-ANGAN, semoga kita terjauh dari tindakan yang sia-sia itu. Amin.” Ucap Dayat mengakhiri diskusi di ruang 3x3 meter itu.

Perpustakaan Masjid Al Mujahidin
24  Desember 2010 22.00
Continue reading Ini tentang sebuah CITA- CITA dan sebuah ANGAN-ANGAN belaka